Berekreasi ke Tempat Wisata di Pusat Kota (1)

Assalamu'alaikum wr.wb

Aku punya cerita lagi nih. Kali ini aku berlibur di Jakarta dengan kereta api (sama papaku). Kenapa sih aku menggunakan kereta api?

"Katanya sih sekarang udah bagus kereta apinya, namanya Commuter Line. Udah gak macet, bersih, wangi, dingin, banyak petugas, banyak juga peminatnya. Terus setiap stasiun didesain mirip di Singapore loh khususnya stasiun MRTnya. Terus ada vending machine dan ditambah lagi ada si lama bernama loket stasiun. Tuh kan, transportasi Jakarta lebih mudah. Hahaha.... tapi urusan waktu sih, agak lama sih. Apalagi kadang sebelum stasiun tertentu suka berenti-berenti nungguin kereta jurusan Jawa yang berpapasan. Intinya, aku senang naik kereta api."

Cus langsung deh ke Stasiun Bogor yang jaraknya lumayan dan macettt........ Maaf gak ada fotonya nih. Gambaran Stasiun Bogor kayak gini :

"Bagus, modern, megah, bersih sih tergantung pengguna Commuter Linenya sih. Soalnya pernah juga ada sampah kertas di stasiun Bogor dan secuil sampah makanan di dalam kereta. Aksesnya sebenarnya dekat, namun jadi jauh karena harus naik turun tangga dan tangganya curam (dari besi gitu). Orang-orang berjalan kaki pada cepat serasa takut ditinggal kereta (padahal setiap berapa menit ada, tapi kadang setiap 1 jam sih :(  "


 Ini masih pagi sih, jadi tidak seramai hari kerja. Tapi, tempat duduk tetap penuh sehingga terpaksa ada yang harus berdiri lama ke stasiun tujuan :(
 Tuh kan bersih? ada petugasnya kok selalu nyapu, ngepel serasa di rumah sendiri. Sampai-sampai aku berfoto kakinya aja (lah?) Mana ada petugas di kereta MRT Singapore? (pastinya mereka selangkah lebih disiplin sih).
Stasiunnya juga BERSIH dan RAPIH. (ini di Stasiun Universitas Pancasila). Walau sederhana, tapi lebih tertata (udah gak ada pedagang kaki lima).
Pemandangan gedung-gedung di Jakarta atau istilahnya SKYLINE (ini di Stasiun Manggarai). Dari Stasiun Manggarai , kita bisa menemukan segala jenis kereta dari kereta jarak jauh, Commuter Line dan bentar lagi "Kereta Bandara dan LRT". Asyikk.... Semoga perkeretaapian Jakarta makin majuuu 😀
Nah, ini dari deketnya. Btw, itu keretanya udah gak berfungsi lagi alias sudah rongsokan. Skyline Jakarta sebenarnya gak kalah sama luar negeri, tapi pemandangan kabel listriknya yang mengganggu. Seharusnya Jakarta harus bisa seperti Batam yang terlihat rapi (kabel listrik bawah tanah) dan unik (jaringan jalannya terencana) dibanding kota lain.
Kereta melajuuuu kencang. Bersih ya relnya. Masyarakat sudah tertib , Alhamdulillah.
Nah, pemandangan kampung-kampung di Kabupaten Bogor (deket Stasiun Citayam kalau tidak salah). Cukup kontras dengan wilayah relnya (karena semrawut penataan rumah-rumahnya).












THB (Tiket Harian Berjaminan) yang selalu kupegang dan di-tap setiap masuk dan keluar stasiun. NICE !








Walaupun lumayan lama dan saat itu penuh, selama 1 jam aku berdiri sampai stasiun yang ternyata nyasar-nyasar gitu. Keretanya ternyata bukan jurusan Stasiun Jakarta Kota. Saat itu aku sedih dan keluar-keluar Stasiun Tanah Abang *tepok jidat

Tapi lumayanlah menjelajah berbagai Stasiun. Stasiun Tanah Abang bagus juga dan sedang direnovasi menjadi Stasiun sekelas Kuala Lumpur (?) AMAZING.

Aku pun keluar dan melihat banyak pedagang kaki lima berjubel hingga di trotoar yang belum lama jadi (trotoarnya sih emang lebar, tapi gak gitu juga). Sebaiknya pemerintah bisa memfasilitasi pedagang itu di suatu lahan strategis dan luas untuk memusatkan perdagangannya *semoga ada yang sadar

Tujuan Pertamaku ke Jalan Jaksa (tempat kampung bule). Pertama-tama aku jalan kaki sampai kolong jembatan apa gitu (lupa, tapi tempatnya tertata rapi gitu kayak di KL wkwk) terus naik Metromini. Fyi, Metromini sekarang tidak segarang dulu loh, udah mengalami peremajaan (catnya dibagusin, interiornya dibersihin, kursinya tidak bolong-bolong.

Sampailah aku pada jalan yang mirip-mirip seperti Jalan Legian yang di Bali itu (kiri kanan banyak apartemen dan bersebelahan dengan tempat makan). Aku langsung mencari jalan Jaksa. Terus aku kaget.

Kagetnya, sekarang udah gak ada bule lagi. Sepi banget. Padahal, 8 tahun yang lalu aku masih bisa melihat bule banyak dan ada acara-acara gitu dulu di Cafenya. Menurut orang yang menjadi pedagang soto ayam bilang kalau sekarang semenjak tempat itu sering macet karena banyak mobil dan motor parkir di jalan yang hanya bisa muat 1 mobil itu, akhirnya tidak ada kendaraan satupun yang parkir (entah kendaraannya pada kemana), terus jadi lebih tertata rapih, ada trotoarnya juga loh walau bukan jalan utama. BEAUTIFUL JAKARTA !

Bule-bulenya dipindahkan ke tempat yang lebih ramai dan terpusat yaitu Old Town atau Kota Tua. Sebelumnya, aku ke Masjid Istiqlal karena aku penasaran dalemnya. Aku pun langsung bergegas jalan kaki dan menuju ke halte Busway. Eitsss, hujan pun turun. Aku meneduh selama 45 menit (gatau sih tempatnya dimana, pastinya di Jakarta Pusat yang jalanannya lebar, rapih, mulus, pengendara tertib). Hujan pun kemudian behenti. Ternyata hujannya tidak terlalu besar, kayaknya karena polusi yang bercampur dengan awan deh :(

Tidak jauh, aku sampai di Masjid Istiqlal. Ramai dan Megah (2 kata yang pantas disematkan untuk Masjid terbesar di Asia Tenggara ini). banyak foto yang ku dapatkan karena memang tidak diperuntukkan untuk ibadah saja, tetapi juga wisata religi.

Aku foto juga di dalam masjid yang memiliki 5 lantai ini beserta pemandangan Kota Jakarta Pusat dari masjid.
 Inilah jalan menuju tempat wudhu, panjang kan jalannya? Ini menunjukkan kemegahan Masjid Istiqlal. Serba megah.


Subhanallah, indahnya Masjid Istiqlal. Fyi, Istiqlal merupakan bahasa Arab yang artinya "Kemerdekaan". Berarti masjid ini dibangun pada masa Soekarno setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Dengan politik mercusuar ala Soekarno, ia bisa membangun banyak tempat megah dan bersejarah di Jakarta yang bisa kita lihat sampai sekarang dan terus direnovasi lebih indah sesuai perkembangan zaman. Masjid ini juga dibangun berdekatan dengan tempat ibadah agama lain yang menunjukkan keberagaman agama di Indonesia yang terjalin toleransi di suatu Ibukota Besar bernama JAKARTA.
 Btw ini diambil siang-siang jadi agak gelap. Tapi bagus kok, tidak merubah pemandangan dibelakangnya.


Sesuai tempatnya, aku berfoto dengan pose berdoa. Semoga masjid ini tetap indah dan tetap dipenuhi para jamaah dan para pengunjung. Aamiin.....


Ini halaman belakangnya, masih kurang luas apalagi? tempat ini sering dipake kegiatan-kegiatan masjid. Cuma karena abis hujan, tempat ini sepi-sepi aja. Belakangku ada menara yang biasa dipake buat adzan.
Waktu masih dzuhur, tapi aku sudah sholat. Jadi aku hanya berfoto saja sebagai kenang-kenangan. Masjidnya lagi dibagusin sekarang. Sebenarnya aku penasaran ingin melihat liftnya yang 'katanya' dipake Raja Salman untuk menuju tempat sholat. Tapi, aku gak tau arahnya. Semoga liftnya tidak sementara, permanen aja kayak di Masjid Sultan Singapore. Kan memudahkan para jamaahnya banget.











 Ini adalah Al-Quran besar di Masjid Istiqlal. Lebih besar lagi kalau Anda melihat Al-Quran di Masjid Cheng Ho Palembang (kalau tidak salah). Al-Quran terlihat indah dengan kaligrafi berbahasa Arab (pasti, kan kitab Al-Quran memang berbahasa Arab) dengan tidak meninggalkan ciri khas Nusantara di hiasan pinggirnya.
Ini sungai yang mengalir dekat Masjid Istiqlal. Walaupun hampir tidak dijumpai sampah, tetapi airnya belum bening. Ayo galakkan buang sampah pada tempatnya, jangan menyusahkan para pembersih Ibukota kita tercinta ini.













Waktu sudah mau sore, jadi aku langsung menuju ke Kota Tua dengan menggunakan Busway karena lebih cepat dan tidak macet.

Ini foto-foto di Kora Tua. Oh ya, aku juga bertemu banyak bule di Cafe-Cafe perpaduan jadul dan modern (namanya Cafe Batavia) dan juga melihat atraksi-atraksi yang membuat pengunjung terkejut. Aku disuguhkan lagi dengan lapangan luas nan bersih dekat Museum Fatahillah dan gedung-gedung bersejarah. Banyak pengunjung yang membeli mainan untuk dimainin di lapangan bareng bareng, sampai bernostalgia bermain sepeda ontel khas Soekarno haha....\

 Foto foto berlatar gedung bersejarah. Sudah kelihatan kece belum tempatnya?
 This is a big field........ Berlatar belakang Museum Fatahillah. Kurang besar apalagi coba? Walaupun Kota Tua ini tidak begitu luas sebenarnya, tapi aktivitas yang ditawarkan disini sangat lengkap dan menarik. Bule-bule saja banyak berkunjung kesini semenjak Jalan jaksa dilarang menjadi tempat aktivitas para bule.
 Gaya gaya anak Jadoel 2000 (eh ini mah tahun lahir aku, hahaha). Cuma sepedanya sudah dimodifikasi mengikuti perkembangan zaman. Ada yang pink, hijau, bahkan biru.
 Setelah aku berbincang dengan bule, aku banyak mendapat informasi bahwa bule-bule ini mayoritas ke Jakarta karena indah dan menarik. Walau dikata sejuta kendaraan numpuk di satu kota, tapi tetap menyimpang trilyunan keindahan. Ada yang dari Australia, Jerman, Italia, dan hampir dari berbagai negara hanya untuk menikmati Cafe-Cafe yang khas dan jarang ditemukan di negara mereka.
 Serasa di jaman dulu banget. Tapi, kenapa Soekarno dan Imam Bonjolnya warna abu abu semua ya penampilannya? Kayak patung gitu jadinya.....
 Djakarta, surganya para bule pencari kuliner khas jaman dulu. Unik bangunannya, unik suasananya.
Coba kembali ke jaman dulu, pasti lapangannya tidak seluas ini. Tapi, Jakarta jaman dulu sangatlah seluas ini....... Ya sudah lah, zaman tidak ada yang bisa ditolak. Kalau sudah renovasi ya renovasi, tapi tidak usah dirubuhkan bangunan aslinya yang masih kokoh.













Btw, tempat ini strategis banget mau kemana-kemana. Bisa jadi dulunya sebagai pusat kota pertama atau "The First City Center in Jakarta" sebelum Bundaran HI menjadi pusat kota jakarta. Bundaran HI sih sekarang jadi pusat ekonominya Jakarta dan pusat sejarah Jakarta ya di Kota Tua ini. Jadi ingin bertanya, pusat teknologi, sosial, budaya, dan politiknya Jakarta dimana ya?

Aku langsung menuju sekitaran Kota Tua sampai pada Stasiun Kota. Aku juga berfoto di sepanjang jalannya. Kayak di jalan Asia Afrika Kota Bandung gitooh.

 Dari segi pemandangan, Jakarta terlihat megah dibandingkan Bandung. Dari segi penataan, Bandung terlihat lebih tertata. Apalagi Bandung lebih baik dalam mengemas wisatanya. Pastinya, wisatawan domestik dan mancanegara akan lebih banyak berkunjung ke Bandung drpd Jakarta.
 Nah, ini gedung Bank Indonesia "Gedung Keuangannya Jakarta". Saat itu sedang sepi dan tutup karena sudah sore.

Sampai di Stasiun Kota, antrian pun memanjang. Semua rute kereta tumplek blek di Satu Stasiun akhir, yaitu Stasiun Kota. Arsitektur Stasiun yang baik dan khas jadoel bangetlah. Sangat instagrammable.












Akhirnya, ku pulang dengan keceriaan tanpa adanya rasa penasaranku lagi......

Wassalamu'alaikum wr.wb

Komentar